Kenapa Instagram Saja Tidak Cukup untuk Jualan Serius
Media sosial dibuat untuk menarik perhatian sesaat, bukan untuk menyimpan keterangan yang dicari orang saat mau membeli. Unggahanmu hari ini tenggelam besok. Harga yang kamu tulis tiga bulan lalu tidak bisa ditemukan lagi. Calon pembeli yang serius biasanya butuh membaca ulang, membandingkan, dan memastikan. Semua itu sulit dilakukan di tempat yang isinya bergerak terus.
Yang Dikerjakan Media Sosial dengan Baik
Perlu diakui dulu, media sosial mengerjakan beberapa hal yang tidak bisa ditandingi website. Dia membuat orang mengenal wajah usahamu. Dia memberi ruang untuk memperlihatkan proses, keseharian, dan sisi manusiawi. Dia juga gratis untuk mulai. Untuk usaha kecil yang baru mulai, ini kekuatan yang sangat besar.
Masalahnya muncul saat usaha mulai serius. Saat itu kebutuhannya berubah, dari sekadar dikenal menjadi dipercaya dan mudah dibeli.
Di Mana Media Sosial Mulai Kewalahan
- Isi lama sulit ditemukan. Pembeli harus menggulir jauh ke bawah untuk mencari produk yang pernah kamu unggah.
- Tidak ada daftar harga yang rapi. Akibatnya kamu menjawab pertanyaan yang sama berulang kali setiap hari.
- Jangkauan diatur pihak lain. Unggahanmu belum tentu dilihat pengikutmu sendiri, dan kamu tidak bisa mengaturnya.
- Sulit dicari lewat mesin pencari. Orang yang mengetik kebutuhannya di mesin pencari umumnya tidak menemukan akun media sosial di urutan atas.
- Akun bisa bermasalah. Kalau akun terkunci atau hilang, seluruh isi dan pengikutmu ikut tidak bisa diakses.
- Tidak terasa resmi. Untuk pembeli perusahaan atau pesanan besar, akun media sosial saja sering dianggap kurang meyakinkan.
Pembagian Tugas yang Masuk Akal
| Pekerjaan | Media Sosial | Website |
|---|---|---|
| Menarik perhatian | Sangat kuat | Lemah |
| Menyimpan katalog | Lemah | Sangat kuat |
| Menjelaskan detail | Terbatas | Leluasa |
| Ditemukan di mesin pencari | Kecil | Besar |
| Membangun kesan resmi | Sedang | Kuat |
| Dimiliki sendiri | Tidak | Ya |
Cara Menggabungkan Keduanya
- Pakai media sosial untuk memancing. Isi yang menarik perhatian, cerita di balik layar, dan produk baru.
- Arahkan ke website untuk keterangan lengkap. Daftar harga, ukuran, cara pesan, dan aturan pengiriman.
- Cantumkan alamat website di profil dan unggahan. Konsisten, jangan hanya sesekali.
- Pindahkan pertanyaan berulang ke halaman tanya jawab. Ini menghemat waktumu setiap hari.
- Simpan isi terbaik di website. Supaya tetap bisa dibaca orang bertahun tahun ke depan.
- Ukur mana yang membawa pembeli. Tanya saja ke pembeli baru tahu dari mana. Cara sederhana ini sering paling akurat.
Beda Cara Orang Membeli di Dua Tempat Ini
Orang membuka media sosial dalam keadaan santai. Mereka tidak sedang mencari apa apa, hanya melihat lihat. Karena itu isi yang berhasil di sana biasanya yang menarik perhatian dalam dua detik pertama. Sebaliknya, orang membuka mesin pencari saat sedang punya kebutuhan yang jelas. Mereka mengetik apa yang mereka cari dan siap membaca lebih lama.
Dua keadaan ini menuntut perlakuan berbeda. Di media sosial, kamu memancing. Di website, kamu menjawab. Kalau kamu memakai gaya yang sama di dua tempat, salah satunya pasti tidak bekerja maksimal.
Ini juga menjelaskan kenapa banyak usaha merasa media sosialnya ramai tapi penjualannya biasa saja. Perhatian sudah didapat, tapi tidak ada tempat yang menampung orang yang mulai serius bertanya. Mereka menyimpan niat itu, lalu lupa besoknya.
Isi yang Sebaiknya Ada di Website
- Daftar produk dengan harga. Ini yang paling sering dicari dan paling sering tidak ada.
- Penjelasan bahan, ukuran, dan cara pakai. Bagian yang melelahkan kalau harus diketik ulang setiap hari.
- Cara pemesanan dan pembayaran. Ditulis selangkah demi selangkah.
- Aturan pengiriman dan pengembalian. Ini membangun rasa aman untuk pembeli baru.
- Cerita tentang usahamu. Siapa kamu, di mana, dan sejak kapan.
- Cara menghubungi. Nomor, alamat, dan jam kerja yang benar benar sesuai.
Enam hal itu tidak butuh halaman yang rumit. Banyak usaha kecil menyelesaikannya dalam satu halaman panjang yang bisa digulir dari atas ke bawah. Yang penting semuanya ada dan mudah ditemukan, bukan banyaknya halaman.
Jangan Membuang Media Sosial
Setelah punya website, godaan untuk mengabaikan media sosial biasanya muncul. Ini keliru. Website tidak bisa mencari orang, dia hanya bisa menunggu didatangi. Media sosial yang mengerjakan pencarian itu, mengingatkan orang bahwa kamu masih ada, dan memperlihatkan sisi manusia dari usahamu.
Cara paling hemat tenaga adalah membuat isi sekali lalu memakainya di dua tempat. Foto produk yang bagus dipakai di website sekaligus diunggah ke media sosial. Penjelasan panjang ditaruh di website, potongan menariknya dibagikan sebagai unggahan. Dengan begitu kamu tidak bekerja dua kali.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menganggap jumlah pengikut sama dengan penjualan. Banyak akun berpengikut besar tapi sepi pesanan.
- Menaruh harga hanya di keterangan foto. Susah ditemukan lagi dan sering ketinggalan saat harga berubah.
- Berhenti bermedia sosial setelah punya website. Dua duanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
- Membuat website lalu tidak pernah ditautkan. Pengikutmu tidak akan tahu websitenya ada.
- Menjawab semua pertanyaan satu satu selamanya. Ini menguras waktu yang seharusnya dipakai untuk produksi.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Usaha saya kecil, apa website tidak berlebihan?
Tidak harus besar. Satu halaman berisi produk, harga, dan cara pesan sudah cukup. Gambaran pasarannya di Jogja berkisar Rp1 juta sampai Rp3 juta untuk halaman sederhana.
Kalau saya sudah ramai di media sosial, perlu website tidak?
Perlu, sebagai pengaman. Ramai di satu tempat yang tidak kamu miliki adalah posisi yang rapuh kalau terjadi sesuatu pada akunmu.
Apakah website bisa membuat pengikut saya bertambah?
Tidak langsung. Tugas website bukan menambah pengikut, tapi mengubah orang yang sudah tertarik menjadi pembeli.
Bagaimana kalau pembeli lebih suka bertanya lewat pesan?
Biarkan saja, itu wajar. Website tetap berguna karena kamu bisa mengirim tautan halaman produk sebagai jawaban, tidak perlu mengetik ulang.
Berapa sering website harus diperbarui?
Tidak sesering media sosial. Yang penting harga, stok, dan cara menghubungimu selalu benar.
Apakah saya harus pandai menulis?
Tidak. Tulis saja seperti kamu menjelaskan produk ke pembeli di depan warung. Bahasa yang wajar justru lebih dipercaya.
Langkah Berikutnya
Kalau kamu merasa media sosialmu ramai tapi penjualannya tidak sebanding, VISBA bisa membantu melihat di mana bocornya. Konsultasi awal gratis dan tanpa kewajiban.
Punya kendala serupa di bisnismu?
Ceritakan dulu situasinya. Konsultasi dan demo gratis, tanpa biaya di awal.
Hubungi Kami