Hubungi Kami Beranda Artikel Pembuat Invoice Gratis Pesanan Kontak
Biaya & Investasi

Berapa Biaya Website Toko Online untuk UMKM?

5 menit baca

Toko online sendiri untuk UMKM di pasaran mulai dari sekitar Rp3,2 juta untuk paket dasar. Angka itu biasanya sudah mencakup halaman katalog, keranjang belanja, dan cara pembeli mengirim pesanan. Yang sering luput dihitung pemilik usaha bukan biaya pembuatannya, melainkan biaya menjalankannya setiap bulan dibanding berjualan lewat marketplace.

Kenapa Perbandingannya Bukan Sekadar Harga Awal

Berjualan di marketplace terasa gratis di awal. Kamu tinggal daftar, unggah foto, jualan jalan. Tapi Kementerian UMKM pada Juni 2026 mencatat biaya layanan marketplace berada di kisaran 10 sampai 18 persen, dan itu belum termasuk biaya iklan supaya barangmu terlihat.

Sekarang bandingkan. Kalau omzetmu Rp20 juta per bulan dan potongannya 15 persen, kamu menyerahkan Rp3 juta setiap bulan. Dalam setahun itu Rp36 juta. Toko online sendiri seharga Rp3,2 juta terlihat sangat berbeda ketika diletakkan di samping angka tadi.

Bukan berarti marketplace harus ditinggalkan. Marketplace mendatangkan pembeli baru yang belum mengenal kamu, dan itu jasanya nyata. Yang tidak masuk akal adalah membiarkan pembeli yang sudah setia dan sudah tahu namamu tetap membeli lewat jalur yang memotong belasan persen.

Isi Paket Toko Online dan Kisarannya

BagianKisaranCatatan
Toko dasar dengan katalog dan keranjangMulai sekitar Rp3,2 jutaPesanan masuk lewat pesan atau formulir
Tambahan pembayaran otomatisTambahan biaya pasang dan potongan per transaksiPotongan ditentukan penyedia pembayaran
Tambahan hitung ongkos kirim otomatisTambahan biaya pasangMenghemat waktu balas pesan
Toko dengan aturan khususBelasan juta ke atasMisal harga bertingkat untuk agen dan pelanggan biasa
Biaya tahunan nama alamat situs dan penyimpananRatusan ribu sampai jutaan per tahunNaik kalau pengunjungnya banyak

Langkah Menghitung Apakah Layak untuk Usahamu

  1. Catat omzet online tiga bulan terakhir. Ambil rata ratanya.
  2. Hitung total potongan yang kamu bayar. Jumlahkan biaya layanan marketplace dan biaya iklan yang kamu keluarkan.
  3. Perkirakan berapa persen pembeli yang sudah kenal kamu. Pembeli ulangan dan pembeli dari media sosialmu sendiri masuk kategori ini.
  4. Kalikan. Potongan yang kamu bayar untuk pembeli yang sudah kenal kamu adalah penghematan yang mungkin kamu dapat.
  5. Bagi biaya pembuatan dengan penghematan bulanan itu. Hasilnya adalah jumlah bulan sampai balik modal.

Contoh hitungan sederhana. Omzet online Rp15 juta, potongan 15 persen berarti Rp2,25 juta per bulan. Kalau sepertiga pembelimu adalah pelanggan lama, penghematan potensialnya sekitar Rp750 ribu per bulan. Toko seharga Rp3,2 juta balik modal sekitar empat sampai lima bulan. Angkanya berbeda untuk tiap usaha, tapi caranya sama.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Kesalahan pertama, membuat toko online lalu menutup lapak marketplace. Ini terlalu ekstrem. Dua duanya punya peran berbeda. Marketplace mencari pembeli baru, toko sendiri merawat pembeli lama.

Kesalahan kedua, membangun toko dengan ratusan produk padahal yang benar benar laku hanya belasan. Mulai dari yang laku. Katalog raksasa yang tidak diurus malah membuat pembeli bingung.

Kesalahan ketiga, lupa memikirkan siapa yang mengurus pesanan masuk. Toko online tetap butuh orang yang membalas, mengemas, dan mengirim. Kalau tidak ada yang pegang, pesanan menumpuk dan pembeli kecewa.

Kesalahan keempat, tidak mengarahkan pelanggan lama ke toko sendiri. Toko yang tidak pernah disebut di media sosial, di nota, atau di kemasan tidak akan didatangi siapa pun.

Membaca Biaya per Pesanan, Bukan per Bulan

Cara paling jujur menilai toko online adalah menghitung biaya per pesanan, bukan biaya per bulan. Ambil seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan berjualan online dalam satu bulan, lalu bagi dengan jumlah pesanan yang masuk di bulan itu.

Kalau di marketplace biaya per pesananmu Rp12 ribu dan di toko sendiri Rp3 ribu, selisih Rp9 ribu per pesanan itulah keuntunganmu. Kalikan dengan jumlah pesanan setahun, dan kamu punya angka yang bisa langsung dibandingkan dengan harga pembuatan.

Cara ini juga membuat keputusanmu tetap benar saat penjualan naik turun. Biaya per bulan berubah ubah mengikuti musim, tapi biaya per pesanan menunjukkan efisiensi yang sebenarnya.

Urutan Membangun Toko Online yang Hemat

  1. Bulan pertama, halaman katalog dan formulir pesan. Cukup untuk melihat apakah pelangganmu mau berpindah jalur.
  2. Bulan ketiga, tambahkan cara pesan ulang cepat. Pelanggan lama adalah sasaran utamamu, permudah mereka.
  3. Bulan keenam, pertimbangkan pembayaran otomatis. Tambahkan setelah jumlah pesanan membuat konfirmasi manual melelahkan.
  4. Setelah stabil, tambahkan hitung ongkos kirim dan laporan penjualan. Dua hal ini menghemat waktu, bukan mendatangkan pesanan, jadi wajar ditaruh belakangan.

Urutan ini membuat pengeluaranmu mengikuti bukti, bukan harapan. Kalau di bulan ketiga ternyata pelangganmu tidak berpindah, kamu berhenti di angka kecil dan tidak kehilangan banyak.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah toko online sendiri bisa menggantikan marketplace sepenuhnya?

Untuk sebagian usaha bisa, terutama yang pelanggannya sudah setia dan produknya khas. Untuk usaha yang mengandalkan pembeli baru dari pencarian marketplace, sebaiknya jalan berdampingan.

Bagaimana kalau pembayaran otomatis terasa mahal?

Kamu boleh mulai tanpa itu. Pesanan masuk lewat formulir lalu dilanjutkan transfer manual. Setelah pesanan makin banyak dan balas manual jadi melelahkan, baru pasang pembayaran otomatis.

Berapa biaya tahunannya?

Yang pasti ada adalah perpanjangan nama alamat situs dan tempat penyimpanan situs, ditambah perawatan berkala kalau kamu mengambilnya. Mintalah rincian angka tahunan ini sebelum tanda tangan.

Apakah stok bisa disambungkan dengan marketplace?

Bisa, tapi itu pekerjaan tambahan dan menambah biaya. Untuk awal, banyak usaha memilih memisahkan stok dulu dan menyatukannya belakangan setelah polanya jelas.

Produk saya cuma sedikit, apakah tetap perlu?

Kalau produkmu sedikit tapi sering dipesan ulang, toko sendiri justru sangat cocok karena pelanggan tinggal pesan tanpa kamu balas satu satu.

Apakah saya bisa mulai dari yang paling murah dulu?

Sangat bisa dan sering itu yang paling bijak. Mulai dari katalog dan formulir pesanan, lalu tambah bagian lain mengikuti pertumbuhan penjualan.

Langkah Berikutnya

Sebelum bicara harga, siapkan tiga angka: omzet online rata rata, total potongan yang kamu bayar, dan perkiraan berapa banyak pembelimu yang sudah kenal usahamu. Dengan tiga angka itu, keputusan membuat toko sendiri berubah dari perasaan menjadi hitungan.

Kalau mau membahasnya bersama, VISBA menyediakan konsultasi gratis tanpa kewajiban untuk pemilik usaha di Jogja dan sekitarnya.

Punya kendala serupa di bisnismu?

Ceritakan dulu situasinya. Konsultasi dan demo gratis, tanpa biaya di awal.

Hubungi Kami

Baca juga